Senin, 12 November 2012

PERKEMBANGAN BAHASA



PENDAHULUAN

PERKEMBANGAN BAHASA

A. Pengertian dan Komponen Bahasa
     Untuk berkomunikasi manusia memerlukan suatu media, yaitu bahasa. Oleh karenanya manusia mempunyai bahasa. Wujud bahasa yang ada sungguh bervariasi. Diantara beberapa bahasa,ada yang mendekati sama sampai berbeda sangat berartiwalaupun memiliki karakteristik bervariasi, bahasa memiliki karakteristik yang bersifat umum.
     Bahasa tidak hanya berkontribusi untuk tranmisi pengetahuan dari seorang individu ke individu lainnya, melainkan juga dari suatu generasi ke generasi masa mendatang.
     Didalam bahasa, terdapat rule systems, yaitu merupakan aspek yang sangat penting sebagai karakteristik suatu bahasa. System ini dapat disebut juga tata bahasa (grammar). Tata bahasa adalah suatu himpunan terbatas dari prinsip-prinsip operasional yang menjelaskan hubungan antara symbol-simbol yang membentuk struktur bahasa.
     Dari pengertian diatas, bahasa dapat diartikan sebagai suatu system symbol dan urutan kata-kata yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Robert E. Owen (1996) menegaskan bahwa bahasa dapat didefinisikan sebagai kode yang diterima secara social atau system konvensional untuk menyampaikan konsep melalui penggunaan symbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi symbol-simbol yang diatur oleh ketentuan.
     Dalam penggunaan bahasa, kita menandai ide-ide (semantik), yaitu menggunakan suatu symbol, bunyi, kata dan sebagainya untuk merujuk ke suatu kejadian, obyek atau hubungan. Untuk mengkomunikasikan ide-ide ini, digunakan bentuk-bentuk tertentu. Yang mencakup unit suara (fonologi), urutan kata yang sesuai (sintaksis), serta dan sebagainya untuk merujuk ke suatu kejadian, obyek atau hubungan. Untuk mengkomunikasikan ide-ide ini, digunakan bentuk-bentuk tertentu. Yang mencakup unit suara (fonologi), urutan kata yang sesuai (sintaksis), serta permulaan dan akhiran yang sesuai (morfologi) untuk mengklarifikasikan maksud (meaning).





1)    Morfologi
          Yaitu berkenaan dengan organisasi kata-kata secara internal. Kata-kata itu terdiri atas satu unit atau lebih dari satu unit yang disebut morfem. Dengan kata lain bahwa morfem merupakan unit gramatika yang paling kecil dan tidak dapat dibagi lagi.
          Pada dasarnya morfem terdiri atas dua jenis yaitu, bebas dan terikat. Morfem bebas adalah independent dan dapat berdiri sendiri yang membentuk kata atau bagian kata.

2)    Fonologi
          Adalah aspek bahasa yang berkenaan dengan ketentuan yang mengatur struktur, distribusi, dan urutan bunyi ucapan dan bentuk ucapan. Setiap bahasa menerapkan fonem, yaitu unit bunyi linguistic yang terkecil yang menandai suatu perbedaan makna. Ketentuan fonologi mengatur distribusi dan pengurutan fonem dalam suatu bahasa. Yang merupakan suatu tindakan mekanis nyata dalam menghasilkan fonem. tanpa aturan tersebut, fonem akan menjadi random.

3)    Ikatan biologis
          Menurut Linguist Noam Chomsky (Santrock and Yussen, 1992) bahwa manusia itu terikat secara biologis untuk belajar bahasa pada suatu waktu tertentu dengan cara tertentu pula. Selanjutnya ditegaskan bahwa anak-anak itu dilahirkan kedunia dengan alat pemerolehan bahasa (Language Acquisition Device = LAD) yaitu ikatan biologis yang memungkinkan anak menditeksi kategori bahasatertentu, seperti fonologi, sintaksis dan semantig. LAD adalah suatu kemampuan gramatikal yang dibawa sejak lahir yang mendasari semua bahasa manusia.

4)    Peran otak dalam perkembangan bahasa
          Menurut (Santrock dan yussen, 1992) bahwa proses bahasa itu dikontrol oleh belahan otak bagian kiri. Berdasarkan hasil studi bahasa pada individu yang mengalami gangguan pada otaknya telah diidentifikasikan pada dua bidang belahan otak kiri yang mengalami kondisi kritis yaitu, seorang ahli bedah dan antropolog, Paul broka, mempunyai pasien bernama tan. Nama itu merupakan pemberian yang dihadiahkan kepadanya, karena dia sebagai pasien hanya bisa mengucapkan kata tan setelah mengalami gangguan pada otak bagian kiri.
          Beberapa system komunikasi sangatlah kompleks. misalnya simpanse, bahwa mereka dapat memahami symbol, sehingga mereka dapat diajari berbagai permainan. Begitu juga dengan singa laut. Akhirnya memang beberapa binatang dapat berkomunikasi dengan sesamanya dan dapat dilatih untuk memanipulasi symbol-simbol bahasa. Tetapi tidak berarti bahwa mereka dapat belajar semua karakteristik bahasa.

5) Priode krisis belajar bahasa
          Menurut Henry Kissinger, bahwa bahasa yang sangat peka untuk belajar dan mengembangkan fonologi, dialek adalah pada saat sebelum usia 12 tahun. Seperti kasus tentang seorang anak  yang bernama Genie yang terjadi di California pada tahun 1970.
          Berdasarkan hasil-hasil temuan, bahwa bahasa harus digerakkan melalui belajar dan waktu yang efektif untuk pengembangan bahasa selama usia dini. Peranan biologis dalam perkembangan bahasa memang sangat kuat, tetapi aspek yang sangat penting dalam pengembangan bahasa manusia adalah pengaruh dari lingkungan.






TEORI PEMBELAJARAN METEMATIKA SD






Dalam pembahasan pelajaran ini ada beberapa teori pembelajaran matematika yang mampu menentukan pendekatan pemubelajaran metematika di SD yang tepat, efektif, dan menyenangkan belajar matematika.   

1.      TEORI PEMBELAJARAN PIAGET.
    Pada umumnya anak SD yang berumur sekitar 6-12 tahun menurut Piaget, anak seumur ini berada pada periode oprasi konkret sebab berpikir logiknya di dasarkan pada manipulasi fisik objek-objek konkret dan masih berpikir abstarak yang masih membutuhkan bantuan memanipulasi obyek-obyek konkret yang langsung di alaminya.
Dalam belajar menurut Piaget, struktur kognitif yang dimiliki seorang terjadi karena proses asimilasi dan akomodasi, Asimilasi adalah proses mendapatkan informasi dan pengalaman baru yang langsung menyatu denagan struktur mental, sedangkan akomodasi adalah proses menstuktur kembali mental sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru. Jadi belajar tidak hanya menerima informasi dan pengalaman lama yang dimiliki anak didik untuk mengakomodasi informasi dan pengalaman baru. Yang diperlu perhatikan pada tahap oprasi konkrert agar mempermudah anak didik dalam memahami konsp-konsp matematika.
Menurut piaget, perkembangan belajar matematika anak melalui 4 tahap yaitu tahap konkret, semi konkret, semi abstrak, dan abstrak, pada tahap konkret kegiatan yang dilakukan anak adalah unutuk mendapatkan pengalaman langsung. Pada tahap semikonkret sudah ti8dak perlu memanipulasi konkret, tetapi melalui dengan gambaran dari objek yang di maksud. Kegiatan yang di lakukan anak pada tahap semi abstrak memani pulasi atau melihat benda sebagai ganti gambar untuk dapat berpikir abstrak, sedangkan pda tahap abstrak anak sudah mampu berpikir secara tanpa kaitan dengan objek-objek konkret.

2.      TEORI PEMBELAJARAN BRUNNER.
                     Menurut Brunner belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi dan serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan strukturstruktur matematika. Menurut Brunner belajar selalu memulai dengan memusatkan manipulasi material, di sini anak didik dalam belajar harus terlibat aktif mentalnya yang dapat diperlihatkan dari keaktifan fisiknya. Brunner melukiskan anak-anak berkembang melalui 3 tahap perkembangan mental yaitu;
        
A.Tahap Enaktif.
      Pada tahap inidalam belajar anak didik menggunakan atau memanipulasi objek-objek konkret se4cara langsng.
B. Tahap Ikonik
      Pda tahap ini kegiatan ank didik akan menyangkut mental yang merupakan gambaran objek-objek konkret.
C. Tahap Simbolik.
      Tahap ini merupakan tahap memanipulasi simbol-simbol secara langsung dan tidak ada lagi ada kaitannya dengan objek-objek.

Beberapa teori menurut bruner yaitu :
Ø   Dalil penyusunan
          menurut dalil penyusunan siswa selalu ingin mempunyai kemampuan menguasai definisi, teorema, konsep dan kemampuan matematis lainnya.
Ø   Dalil notasi
         Dalil notasi menyatakan bahwa dalam penyajian konsep sangat memegang peranan yang sangat penting, penggunaan notasi dalam menyatakan konsep matematis tertentu harus disesuaikan dengan perkembangan anak didik.
Ø   Dalil pengkonterasan dan keanekaragaman
         Pemgkontrasan dan keanekaragaman sangat penting dalam melakukan pengubahan konsep matematika dari konsep konkret menjadi konsep yang lebih abstrak, untuk melakukan itu diperlukan banyak contoh dan keanekaragaman, sehingga anak memahami karakteristik konsep yang sipelajari.
Ø  Dalil pengaitan
          Dalil pengaitan menatakan bahwa antara konsep matematika yang satu dengan konsep yang lainya sangat erat baik dari segi isi maupun dari penggunaan rumus-rumus.

3.      TEORI PEMBELAJARAN DIENES
Menurut dienes perkembangan konsep matematika dapat dicapai melalui pola berkelanjutan, yang setiap seri dalam rangkaian kegiatan belajarnya berjalan dari yang konkret ke simbolik. Menurut dienes permainan matematika sangat penting sebab opresi matematika dalam permainan matematika dapat menunjukan aturan secara konkret dan lebih membimbing dan menajamkan pengerian matematika pada anak didik. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi enam tahap yaitu :
a.       permainan bebas
      Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan, anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda selama permainan pengetahuan anak muncul. Dalam tahap ini anak mulai belajar membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep.
b.      permainan yang disertai aturan (games)
      Anak didik mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat atau tidak terdapat dalam konsep matematika tertentu dan pada tahap ini anak didik juga sudah mengapstraksikan konsep.
c.       permainan kesamaan sifat.
      Disini anak mulai diarahkan dalam kegiatan untuk mencari sifat-sifat yang sama dari pemainan yang sedang diikuti.
d.      resentasi
      Adalah tehap pengambilan kesamaan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. Para anak didik menenukan  representasi dari konsep-konsep tertentu.
e.       simbolisasi
      Adalah tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal.


f.       formalisasi
      Tahap ini adalah tahap belajar konsep yang terakhir,tahap ini anak didik dituntut untuk merumuskan-sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru rumua baru tersebut. Dienes berpendapat bahwa materi harus menyatakan dalam berbagai penyajian sehungga anak-anak dapat bermain dengan bermacam-macam material yang dapat mengembangkan anak didik.

4.      TEORI PEMBELAJARAN BROWNELL
          Menurut brownell hakikat belajar adalah merupakan suatu proses yang bermakna, dan belajar matematika harus merupakn belajar bermakna dan pengertian. Menurut teori makna anak didik harus mengemukakan makna dari topoik yang sedang dipelajari.brownell mengemukakanbvahwa kemampuan mendemonstrasikan oprasi-oprasi hitung secara otomatis dan mekanis.

5. TEORI PEMBELAJARAN THORNDIKE
        Teori belajar ini disebut juga koneksionisme yang mengatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respon. Terdapat beberapa dalil atau hukum belajar meliputi:

a) Hukum Kesiapan (Law of Readiness) menerangkan bagaimana kesiapan seorang anak dalam melakukan suatu kegiatan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa seorang anak akan lebih berhasil belajarnya, jika ia telah siap untuk melakukan kegiatan belajar.

b) Hukum Latihan (Law of exercise) menyatakan bahwa jika hubungan stimulus respon sering terjadi, akibatnya hubungan akan semakin kuat, sedangkan makin jarang hubungan stimulus-respon dipergunakan, maka makin lemah hubungan yang terjadi. Prinsip utama belajar adalah pengulangan, makin sering suatu konsep matematika diulangi, maka semakin dikuasailah konsep matematika tersebut.

c) Hukum Akibat (Law of Effect) menjelaskan bahwa hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan.

Aplikasinya dalam pembelajaran matematika meliputi:

1.   Guru harus tahu apa yang akan diajarkan, materi apa yang harus diberikan, respon apa yang diharapkan, kapan harus memberi hadiah atau membetulkan respon. Oleh karena itu tujuan pendidikan harus dirumuskan dengan jelas.

2.   Tujuan pendidikan masih dalam batas kemampuan belajar peserta didik. Dan terbagi dalam unit-unit sedemikian rupa sehingga guru dapat menerapkan bermacam-macam situasi.

3.   Agar peserta didik dapat mengikuti pelajaran, proses belajar harus bertahap dari yang sederhana sampai yang kompleks.

4.   Dalam belajar motivasi tidak begitu penting karena yang terpenting adalah adanya respon yang benar terhadap stimulus.

5.   Peserta didik yang telah belajar dengan baik harus diberi hadiah dan bila belum baik harus segera diperbaiki.

6.   Situasi belajar harus dibuat menyenangkan dan mirip dengan kehidupan dalam masyarakat.

7.   Materi pelajaran harus bermanfaat bagi peserta didik untuk kehidupan anak kelak setelah keluar dari sekolah.
 
8.   Pelajaran yang sulit, yang melebihi kemampuan anak tidak akan meningkatkan kemampuan penalarannya.

         Kelebihan dari Teori S-R dari Thorndike yaitu dengan sering melakukan pengulangan dalam memecahkan suatu permasalahan, anak didik akan memiliki sebuah pengalaman yang berharga. Selain itu dengan adanya sistem pemberian hadiah, akan membuat anak didik menjadi lebih memiliki kemauan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
Kekurangan dari Teori S-R dari Thorndike yaitu kegiatan yang terlalu sering dilakukan, akan membuat anak didik merasa jenuh yang mungkin saja dapat mengakibatkan dia merasa enggan untuk mencobanya lagi. Selain itu dengan adanya sistem pemberian hadiah akan membuat ketergantungan pada anak didik dalam melakukan sebuah kegiatan.

6.TEORI PEMBELAJARAN SKINNER.
            Teori ini mengatakan bahwa ganjaran atau penguatan mempunyai peranan yang amat penting dalam proses belajar, ganjaran merupakan proses yang sifatnya mengembirakan dan merupakan tingkah laku yang sifatnya subjektif.
            Skinner juga berpendapat bahwa penguatan di bagi atas dua bagian yaitu; penguatan positif dan negatif, penguatan merupakan stimulus positif jika penguatan tersebut sering dengan meningkatnya perilaku anak didik dalam melakukan pengulangan perilaku tersebut. Jadi penguatan yang di berikan kepada anak didik memperkuat tindakan anak didik, sehingga anak didik cendrung untuk sering melakukannya.        












KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan karunianya kami bisa menyelesaikan tugas  makalah  ini dengan baik,
kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kami menerima kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.

Dengan selesainya makalah ini, saya berterima kasih kepada dosen pembimbing yaitu ibu Dra. DARNI JAFAR S.Pd yang telah menuntun  kami dalam menyelesaikan tugas kelompok ini.













PROSEDUR DAN RANCANGAN MANAJEMEN KELAS .








Latar Belakang.
     

Guru merupakan kunci keberhasilan dalam pengelolaan proses pembelajaran, sementara itu manajemen kelas merupakan salah satu  aspek dari pengelolaan proses pembelajaran yang paling rumit tetapi menarik perhatian. Karena manajemen kelas itu memperlukan berbagai kreteria keterampilan, pengalaman, bahkan kepribadian serta sikap dan nilai-nilai seorang guru.

Manajemen kelas, dikatakan menarik, karena selain memerlukan kemampuan pribadi serta ketekunan menghadapinya di satu sisi, disisi lain calon guru, dan guru yang berpengalaman sekalipun akan bergelut dengan manajemen kelas agar terselenggara proses pembelajaran yang efektif dan tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, guru mempunyai peranan besar dalam menentukan keberhasilan manjemen kelas maupun manajemen pembelajaran.

Berdasar penjelasan tersebut di atas, mengisyaratkan bahwa guru harus memiliki kemampuan professional termasuk kemampuan professional termasuk kemampuan memanajemeni kelas, untu memiliki kemampuan manajemen kelas guru antara lain harus memahami prosedur manajemen kelas. Dalam bab ini akan membahas prosedur nmanajemen kelas dan rancangan prosedur manajemen kelas.    


1. prosedur manajemen kelas
            Manajemen kelas merupakan suatu tindakan yang menunjuk kepada kegiatan-kegiatan yang berusaha menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal terjadinya proses kegiatan pembelajaran yang efektif. Serangkaian langkah-langkah kegiatan menajemen kelas mengacu kepada tindakan pencegahan (preventif) dengan tujuan menciptakan kondisi pembelajaran yang menguntungkan, dan tindakan korektif yang merupakan tindakan koreksi terhadap tingkah laku menyimpang yang dapat mengganggu dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

            Dimensi tindakan korektif dapat dibagi menjadi dua jenis tindakan yaitu:
  1. tindakan yang seharusnya segera diambil oleh guru pada saat terjadi gangguan terhadap kondisi optimal pembelajaran.
  2. tindakan kuratif yaitu, tindakan terhadap tingkah laku yang menyimpang dan yang telah terlanjur terjadi agar penyimpangan tersebut tidak berlarut-larut.

Tindakan manajemen kelas juga dapat menjurus kepada tindakan manajemen dimensi pencegahan dan prosedur dimensi penyembuhan.

A.    Prosedur dimensi pencegahan

      Tindakan ini yang dilakukan sebelum munculnya tingkah laku yang menyimpang dan mengganggu kondisi optimal berlangsungnya pembelajaran. Konsekuensinya guru harus menentukan langkah-langkah dalam rangka manajemen kelas harus merupakan langkah yang efektif dan efisien. Adapun langkah-langkah pencegahannya sebagai berikut:

1. peningkatan kesadaran diri sebagai guru
Guru harus menerapkan langkah yang strategis dan mendasar karena dengan dimilikinya kesadaran ini akan meningkatkan rasa tanggungjawab dalam melaksanakan tugasnya.
2. peningkatan kesadaran peserta didik
            Interaksi positif antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran apabila dua kesadaran, kurangnya kesadaran peserta didik akan menumbuhkan dimensi pencegahan dan tindakan manajemen dimensi kuraktif.
     
  1. dimensi pencegahan, yaitu tindakan guru dalam mengatur peserta didik dan peralatan derta format pembelajaran yang tepat sehingga menumbuhkan kondisi yang menguntungkan bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Dimensi pencegahan adalah berupa langkah-langkah yang harus direncanakan guru untuk menciptakan suatu struktur kondisi ysng fleksibel.
  2. Dimensi kuratif, yaitu tindakan terhadap tingkah laku yang menyimpang yang terjadi agar penyimpangan itu tidak berlarut-larut, dalam hal ini guru berusaha untuk menumbuhkan kesadaran akan penyimpangan yang dibuat dan akhirnya akan menimbulkan kesadaran dan tanggungjawab.


3.      sikap polos dan tulus dari guru

seorang guru hendaknya bersikap polos dan tulus terhadap peserta didik. Sikap ini mengandung makna bahwa guru dalam segala tindakannya tidak boleh berpura-pura bersikap dan bertindak apa adanya. Sikap dan tindak laku seperti itu sangat mambantu dalam memenajemeni kelas. Guru dengan sikap dan kepribadiannya sangat mempengaruhi lingkungan belajar karena tingkah laku, cara menyikapi, dan tindakan guru merupakan stimulus yang akan direspon atau diberikan reaksi oleh para peserta didik. Kalau stimulus itu positif maka respon juga positif, sebaliknya kalau stimulasi itu negatif maka respon yang akan munculadalah negatif.

  1. Mengenal dan Menemukan Alternatif Pengelolaan

Untuk mengenal dan menemukan alternatf pengelolaan langkah ini menuntut guru harus melakukan identifikasi berbagai penyimpangan tingkah laku peserta didik yang sifatnya individual maupun kelompok, dan juga guru harus mengenal berbagai pendekatan dalam manajemen kelas dan juga berusaha menggunakan pendekatan manajemen kelas yang di anggap tepat untuk mengatasi suatu situasi atau dengan pendekatan pilihannya, dan juga seorang guru harus mempelajari pengalaman guru-guru lainnya  yang gagal atau berhasil sehinnga dirinya memiliki alternatif yang bervariasi dalam menangani berbagai problema manajemen kelas.

  1. Menciptakan Kontrak Sosial
 
Pencptaan kontrak sosial pada dasarnya berkaitan dengan standar tingkah laku serta memberikan gambaran tentang fasilitas beserta keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan peserta didik. Standar tingkah laku ini di bentuk melalui kontrak sosial antara sekolah atau guru dan peserta didik. Norma atau nilai sangat penting, oleh sebab itu dalam rangka memanajemeni kelas norma berupa kontrak sosial beserta dengan sangsinya yang mengatur kehidupan dalam kelas.

B. Prosedur dimensi penyembuhan ( kuratif )
                   Pada dasarnya ada langkah-langkah prosedur di mensi penyembuhan adalh sebagai berikut:

  1. Mengeindentifikasi Maslah.
Pada langkah ini kegiatan untukn mengenal atau mengetahui masalah-masalah manajemen kelas yang timbul dalam kelas. Berdasar masalah-masalah tersebut guru mengendetifikasi jenis-jenis penyimpangan sekaligus mengetahui latar belakang yang membuat peserta didik dan melakukan penyimpangan tersebut.



2.  Menganalisis Masalah
Pada langkah ini guru berusaha menganalisis penyimpangan peserta didik dan menyimpulkan latar belakang dan sumber-sumber dari penyimpangan itu, setelah itu bagai mana cara bisa menyelesaikan masalah tersebut.